Welcome                                       to my life   :-)                                                                                                                                                                                                                 v

...~Tito~...'s posts with tag: kutipan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kutipan
Blog EntryKita Punya Batu Bara, Tetangga Menangguk LabaSep 4, '07 11:32 PM
for everyone
Dari gatra




Kecil tapi tajir. Itulah Coaltrade Services International Pte Ltd, perusahaan trading yang berkantor di 1 Finlayson Green 16-01, Singapura. Meski cuma diawaki lima orang, perusahaan trading batu bara itu sanggup mencetak laba bersih yang jumlahnya sungguh mencengangkan, yakni US$ 42,4 juta, sekitar Rp 380 milyar, pada 2005. Ini berdasar laporan keuangan yang disahkan Kantor Akuntan Low, Yap & Associates, pada 17 April 2006.

Setiap tahun, rata-rata Coaltrade menjual 6 juta ton batu bara yang dihasilkan PT Adaro Indonesia, dan 4 juta ton lagi dari produsen lain. Melihat kebolehan Coaltrade sebagai perusahaan mini yang mampu mencetak laba luar biasa, dugaan miring pun mengarah padanya. Seorang yang mengaku tahu sepak terjang Coaltrade menelepon Gatra, beberapa waktu lalu. "Ada yang aneh dari hubungan antara Adaro dan Coaltrade," kata sumber yang tak mau disebut namanya itu.

Rupanya sumber Gatra itu tidak cuma menelepon. Ia pun mengirim dokumen laporan keuangan Coaltrade sepanjang tahun 2001-2005, profil direksi dan karyawannya, daftar harga batu bara pada sembilan bulan pertama 2005, di samping dokumen Adaro Bond Offering Prospectus tertanggal 22 November 2005. Meski fotokopian, sumber tersebut mengklaim bahwa isi dokumen itu valid.

Melalui telepon, Gatra mencoba meminta waktu untuk menemuinya. Rupanya ia cuma mau ditemui di Singapura. Maka, awal Agustus lalu, Gatra pun menemuinya di lobi Hotel Raffless Plaza. Ia bersedia berbicara panjang lebar kepad Gatra, didampingi seorang kawannya yang mengaku seorang profesional invesment bank. "Tapi jangan sebut nama saya," kata mereka.

Dari kedua sumber tersebut mengalir cerita tentang laporan keuangan Coaltrade. Dari tahun 2001 hingga 2003, perusahaan itu hanya dioperasikan tiga orang. Mulai 2004 dioperasikan lima orang, terdiri dari dua direktur, seorang manajer, dan dua sekretaris. Dengan awak yang ramping itu, keuntungan bersih yang dapat diraihnya toh tergolong luar biasa.

Dari 2001 hingga 2005, menurut sumber itu, laba bersih Coaltrade berturut-turut US$ 3,52 juta, US$ 17,08 juta, US$ 15,22 juta, US$ 28,49 juta, dan US$ 42,4 juta. "Luar biasa sekali. Bagaimana bisa meng-handle masalah administrasi, akuntansi, dan pemasaran dengan karyawan sekecil itu. Bisa jadi, kalaupun mereka bekerja 24 jam sehari, rasanya tak akan mampu," kata sang investment bank tadi.

Lebih jauh, ia membuka dokumen yang bertuliskan Adaro Offering Bond Prospectus 22 November 2005. Di dalamnya termuat, antara lain, laporan keuangan Adaro tahun 2005 (hingga kuartal ketiga) serta hubungan antara Adaro dan Coaltrade.

Laporan itu menyebutkan, laba bersih Adaro dari 2001 hingga kuartal ketiga 2005 berturut-turut adalah US$ 9,5 juta, 14,0 juta, US$ 10,3 juta, US$ 17,1 juta, dan US$ 39,4 juta. "Nilainya pada beberapa tahun terakhir lebih kecil dari Coaltrade yang hanya menjualkan batu baranya," kata sumber Gatra itu pula.

Dari prospektus itu diketahui bahwa harga jual batu bara Adaro yang berkualitas 5.200 kkal per kg disebut US$ 26,3 per ton. Padahal, katanya pula, harga emas hitam di pasar internasional pada periode itu, kalau dirata-rata, US$ 42,6 per ton. "Dengan selisih harga yang US$ 16 per ton itu, tentu saja keuntungan yang diraih Coaltrade menjadi besar sekali," katanya.

Kalau saja penjualan itu dilakukan dua perusahaan yang tak ada hubungan kepemilikannya, tentu tak jadi masalah. "Tapi, kalau dijual ke sister company, dan membuat sister company itu untung gede, ya, perlu dipertanyakan," kata sumber Gatra itu lagi. Ia lantas membuka halaman 121 Adaro Offering Bond Prospectus. Pada diagram struktur kepemilikan sahamnya memang ada kemiripan nama perusahaan dan kepemilikan sahamnya di Adaro maupun Coaltrade. Ia menduga, Adaro melakukan transfer pricing.

Ia juga menyodorkan dokumen yang berisi daftar riwayat kerja Direktur Coaltrade. Misalnya Anna Yeo Lae Choo yang menjadi Direktur Coaltrade sejak 2001. Sejak 28 Juli 2006, ia juga menjadi sekretaris di MM & NY Co Pte Ltd, perusahaan yang bergerak di bidang restoran. "Masak iya ada direktur jadi sekretaris di perusahaan lain," katanya.

Mulai 10 Januari 2007, Anna pun menjadi manajer di Si Bon yang bergerak di usaha restoran. Mulai 1 Maret 2007, ia merangkap sebagai Manajer Annmarrie Consultancy yang bergerak di usaha stenografi dan secretarial service. Di luar itu, hingga saat ini ia pun tercatat sebagai Manajer Marie Studio, Ann-Marie Management Services, Asia Lions, dan Hannah Trading.

Sedangkan Tan Kee Boon, sekretaris di Coaltrade, hingga saat ini juga menjadi sekretaris di 115 perusahaan. Antara lain Beyonics International Pte Ltd, World Fuel Services (Singapore) Pte Ltd, Axis Communications (S) Pte Ltd, dan Centre for Robot Enhanced Surgery Pte Ltd.

Dari profil para pengurus Coaltrade itu, sumber Gatra tersebut menduga bahwa orang yang dipasang sebagai direksi dan karyawan di Coaltrade hanyalah nominee, dan yang melakukan kerja sesungguhnya, baik pemasaran maupun akuntansinya, adalah orang-orang Adaro sendiri.

Untuk melihat secara lebih jernih, Gatra juga meminta pendapat Alvin Lie, anggota Komisi VII DPR-RI yang membidangi masalah energi. Urusan batu bara menjadi bagian dari masalah yang biasa ia tangani. Alvin Lie juga paham mengenai perdagangan internasional, karena ia adalah master international marketing lulusan Strathclyde University, Glasgow, Skonlandia. Alvin pun lalu memeriksa dokumen tersebut.

"Anda tidak salah bertemu saya," katanya, diiringi senyum lebar. Alvin kembali memeriksa angka-angka yang tertera. "Bila menilik modusnya yang biasa terjadi selama ini, patut diduga ada praktek transfer pricing dalam hal ini. Tapi, benar tidaknya, Dirjen Pajak yang perlu menelusurinya," ia menambahkan.

Alvin menyatakan, selisih yang tinggi antara harga penjualan batu bara dari Adaro kepada Coaltrade dan harga internasional bisa menjadi indikasinya. "Kalaupun model penjualannya dengan kontrak, bila selisih harga itu tinggi, biasanya ada escape clause," katanya. Dengan escape clause itu, harga jual akan disesuaikan, sehingga selisih dengan harga internasional tak mencolok.

Indikasi lainnya adalah adanya kemiripan nama-nama perusahaan pemegang saham Adaro dan Coaltrade. "Kalau sama persis, ya, gampang ketahuan. Bisa jadi, disengaja sedikit dibedakan," ujarnya. "Syukur-syukur pemilik Adaro mengaku bahwa memang pemiliknya sama. Ini jadi lebih kuat lagi indikasi itu," tuturnya.

***

Transfer pricing adalah upaya memindahkan keuntungan oleh sebuah perusahaan di sebuah negara kepada perusahaan lain di negara lain, yang masih ada hubungan kepemilikan. Yang biasa dilakukan, misalnya perusahaan A di Indonesia menjual produknya kepada perusahaan B di negara lain (masih ada hubungan kepemilikan) dengan harga lebih murah dari harga pasar internasional.

Berikutnya, perusahaan B menjualnya kembali ke pihak lain dengan harga lebih tinggi (harga internasional). Dengan cara ini, perusahaan B mendapat keuntungan besar, yang pada dasarnya juga akan dinikmati si pemilik perusahaan A, karena ia juga punya saham di perusahaan B. Biasanya lokasi negara yang dipakai sebagai tujuan transfer pricing adalah negara yang punya tarif pajak lebih kecil dari Indonesia, antara lain Singapura (20%) dan Hong Kong (17,5%).

Alvin Lie menyatakan, dengan cara itu, keuntungan perusahaan A menjadi lebih kecil, sehingga pajak yang mesti dibayar juga lebih kecil. Untuk perusahaan tambang, nilai royalti yang dibayar ke pemerintah pun lebih kecil.

Alvin menyatakan, keterbukaan informasi, khususnya dari perusahaan tambang di Indonesia, selama ini minim. "Kami selalu dipersulit kalau minta laporan keuangan dari perusahaan tambang," katanya. Padahal, sebagai anggota DPR yang membidangi masalah energi, dia merasa layak menerima laporan keuangan itu. "Meminta dari pemerintah yang selalu menerima laporan keuangan dari perusahaan tambang juga tak gampang," ia menambahkan.

Alvin punya usul agar ke depan, DPR juga bisa mengakses laporan keuangan semua perusahaan tambang di Indonesia. "Tidak perlu kami meminta," ujarnya. Bahkan ia mengusung ide lain, yakni mewajibkan semua perusahaan yang mengeksploitasi alam, seperti tambang dan kehutanan, memublikasi laporan keuangannya ke publik. "Tidak hanya yang go public, yang perusahaan tertutup juga," katanya. "Sebab harta di bumi Indonesia itu kan punya rakyat. Jadi, wajar saja kalau semua orang bisa mendapatkan akses untuk mengetahuinya," ia menegaskan.

Sebab adanya kecurangan, baik dalam operasi tambang maupun penjualannya, akan membuat pemerintah dan rakyat rugi. "Pajak jadi kecil, royalti juga kecil, yang kemudian berimbas pada penerimaan daerah dari bagian royalti juga mengecil dan terjadi pelarian devisa," katanya. Besarnya pajak yang mesti dibayar adalah 30% pajak penghasilan (PPh) badan, 15% dividen, dan royalti 13,5% (7% untuk pemerintah pusat dan 6,5% untuk pemerintah daerah serta community development).

***

Atas informasi tersebut, Gatra mencoba mengonfirmasikan dugaan transfer pricing itu ke PT Adaro. Melalui SMS, permohonan wawancara dikirimkan. Alamatnya ke Edwin Soeryadjaja, pemegang saham yang juga Komisaris Utama Adaro, dan Boy Garibaldi Thohir, presiden direktur yang juga pemegang saham di Adaro.

Edwin Soeryadjaja menjawab, juga melalui SMS, meminta Gatra menemui Boy Thohir. Ia pun menjanjikan pertemuan dengan Boy Thohir. Akhirnya pertemuan dengan Boy Thohir terjadi pada Rabu 15 Agustus lalu di Hotel Four Seasons Jakarta. Dalam pertemuan itu, Boy membantah semua tudingan yang dialamatkan ke Adaro maupun Coaltrade.

Boy mengakui bahwa antara Adaro dan Coaltrade memang ada hubungan. "Coaltrade itu memang subsidiary group kami," katanya. Soal harga jual batu bara Adaro yang lebih rendah dari harga internasional, ini terjadi karena penjualannya dengan kontrak. "Dan besarannya ditinjau setahun sekali," tuturnya.

Boy menambahkan, tak ada praktek transfer pricing seperti yang dituduhkan. "Kalau saya mau macam-macam, ya, tidak akan bikin Coaltrade. Bikin yang ngumpet-ngumpet, yang nggak ketahuan," katanya. "Kami buka di Singapura, dan kami tidak buka di British Virgin Island atau di mana yang susah dilacak," ia menambahkan (lihat: Kalau Ngumpet, Ya, di British Virgin Island).

Direktur Jenderal Pajak, Darmin Nasution, yang ditemui Basfin Siregar dari Gatra belum mau menyimpulkan tentang tudingan yang mengarah ke Adaro. "Karena saya baru dengar informasinya. Pasti akan kami telusuri itu," ujarnya. Darmin menyatakan, transfer pricing bisa terjadi di sebuah perusahaan. "Meski pembuktiannya sulit," katanya.

Untuk membuktikannya, yang perlu dilacak adalah soal kepemilikan sahamnya. "Transfer pricing itu biasanya jauh lebih praktis kalau pembelinya di sana, ada hubungannya dengan penjualnya di sini. Baru setelah itu, kita bisa lihat," katanya. "Selain itu, soal harga," ia menambahkan.

Sebab, kata Darmin, transfer pricing ditandai dengan harga jual yang tidak sama atau lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar. "Negara dirugikan kalau itu benar-benar terjadi," katanya lagi.

Untuk mencegah agar praktek transfer pricing tak terjadi, ada syarat yang mesti dipenuhi. "Database harus sudah lengkap sekali," ujarnya. "Dan seharusnya ada perwakilan pajak di beberapa negara," katanya. Tujuannya, untuk membuka informasi mengenai perusahaan-perusahaan di luar negeri yang bermitra dagang dengan perusahaan di Indonesia. "Kita perlu itu. Dan kami sudah pernah mengajukan ke Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri," ia menambahkan.

Darmin menyatakan, pada saat ini Ditjen Pajak tengah membedah satu per satu profil para pembayar pajak. "Terutama yang besar-besar. Nah, dari database itu, secara bertahap akan kelihatan ada permainan atau tidak. Karena tidak cuma transfer pricing, terkadang ada biayanya yang dibesar-besarkan," katanya.

Irwan Andri Atmanto dan Basfin Siregar
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 42 Beredar Kamis, 30 Agustus 2007]

Blog EntryBalikpapan Banjir ....Sep 2, '07 5:26 AM
for everyone
Sabtu (1 Sept 2007) ...
mulai dari subuh ... Balikpapan memang Hujan Terus
beruntung masih ada taksi yg nganter ke bandara jam 08.00
jam 09.00 sharp ... GA 511 berangkat ke Jakarta ...

Ternyata di hari itu Balikpapan Banjir ....

foto-2 nya bisa dilihat di blognya afif
http://afifkhazin.multiply.com/photos/album/390


02/09/2007 15:25 WIB
Depkes Kirim Makanan 6 Ton untuk Korban Banjir Balikpapan
Nograhany Widhi K - detikcom
Jakarta - Banjir 8 jam yang mengakibatkan longsor di Balikpapan menimbulkan korban tewas, luka dan pengungsi. Depkes mengirimkan bantuan makanan 6 ton untuk meringankan derita korban.

"Depkes mengirimkan bantuan makanan siap saji 1 ton dan makanan pengganti ASI (MP ASI) 5 ton," ujar Kepala Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes Rustam S Pakaya dalam pesan singkat yang diterima detikcom, Minggu (2/9/2007).

Selain bantuan makanan, Depkes juga mengirimkan beberapa kantong mayat, sepatu bot, 1 orang staf dan sejumlah dana operasional.

Dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, imbuh Rustam, ada bantuan obat-obatan. "Butuh 3 posko kesehatan dan 15 tenaga kesehatan," lanjut dia.

Masalah kesehatan, imbuh Rustam, masih bisa teratasi.

Data yang diperoleh PPK, hingga siang ini, banjir tersebut menimbulkan 4 korban jiwa, hilang 1 orang, luka berat 3 orang, luka ringan 35 orang.

Warga yang sakit 50 orang, dan yang dirujuk ke rumah sakit 12 orang. Pengungsi 75 orang, namun penduduk yang terancam banjir dan longsor 7.171 orang.

Balikpapan pada Sabtu 1 September 2007 dini hari diguyur hujan lebat selama 8 jam. Akibatnya, puluhan rumah terendam, beberapa ruas jalan rusak bahkan terputus, dan menimbulkan longsor di beberapa titik.
(nwk/nrl)


Diambil dari : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/02/time/152510/idnews/824561/idkanal/10

Blog EntryResensi : Politik Budaya di Negeri JajahanAug 31, '07 4:24 AM
for everyone


Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942
Penulis: Frances Gouda
Penerbit: Serambi, Jakarta, 2007, 523 halaman

Kebudayaan kolonial Belanda ternyata memiliki beragam segi dan pluralistik. Sebab kebudayaan kolonial Belanda yang diterapkan di Indonesia berbeda dibandingkan dengan di negeri jajahan lainnya, bahkan dengan negeri asalnya. Ini mungkin bisa menjawab pertanyaan mengapa bangsa sekecil Belanda dan dinilai tak begitu penting secara politik di Eropa ini mampu mendominasi peradaban-peradaban tua seperti di Jawa dan Bali.

Dalam konteks inilah, Frances Gouda berupaya memaparkan cara Belanda menjajah dan gaya penjajahannya yang unik. Bukan saja uraian praktek penjajahan, Gouda juga menggali dampak budayanya yang hingga kini masih terasa. Malah ada bagian tersendiri yang membeberkan cara Pemerintah Hindia membentuk citra melalui pameran kolonial internasional di Paris pada 1931.

Dalam penggaliannya ini, Gouda menggunakan beragam sumber primer. Mulai surat kabar, laporan pemerintah, korespondensi pemerintah, surat-surat pribadi, hingga roman dan buku panduan perjalanan. Selain itu, doktor sejarah dari Universitas Washington tahun 1980 ini juga mewawancarai orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Indonesia pada 1930-an.

Gouda juga membahas peran kaum perempuan. Di sini ia membingkai upaya perempuan Belanda mendidik gadis pribumi di Jawa dan Bali. Ia melihatnya sebagai "kewajiban" perempuan Belanda terhadap para perempuan pribumi ketika mereka tiba di tanah surga ini. Di lain pihak, ia menggambarkan hubungan para perempuan Belanda dan pribumi dengan laki-laki Eropa.

Ternyata peran perempuan kulit putih ini unik. Mereka bukan sekadar teman bisu perjalanan ayah atau suami mereka yang menyusun aturan-aturan kolonial. Mereka juga berperan sebagai "artis pendukung" dalam upacara serta ritual penuh keangkuhan dan superioritas kekuasaan Barat. Dalam proses pemantapan kembali agenda politik kolonial, para perempuan kulit putih ini justru berada dalam posisi marjinal.

Sementara itu, hubungan antara perempuan pribumi dan pria kulit putih tak bisa dihindari. Gouda memaparkan tradisi pergundikan yang sudah lama mengakar. Banyak perempuan pribumi bekerja sebagai nyai. Dalam kisah rakyat, nyai layaknya "kamus berjalan" yang multifungsi bagi pria-pria kulit putih, walau kenyataannya itu fantasi kolonial belaka.

Gouda melihat, praktek pergundikan ini dilembagakan seiring dengan keluarnya kebijakan pembatasan jumlah perempuan imigran Belanda. Kebijakan yang terbit pada 1652 itu juga menetapkan syarat rumit bagi perkawinan resmi pria Belanda dengan perempuan Jawa. Ada yang berargumen, praktek pergundikan di kalangan anggota KNIL perlu karena bisa meningkatkan "kesehatan serta moral" tentara.

Alasan lainnya, konsumsi makanan berempah merangsang berahi laki-laki kulit putih. Walhasil, mereka mencari pemuasan pada para gundik pribumi untuk mencegah kebejatan seksual yang lebih buruk. Dari perkawinan campur itu, lahirlah anak-anak indo.

Keelokan perempuan dan laki-laki berdarah campuran (indo) pada masa sekarang menjadi idola publik dan lahan menguntungkan. Tapi, pada masa kolonial, wajah indo ini justru merupakan beban tersendiri. Seperti tergambar dalam Encyclopedie van Nederlandsch Indie, orang-orang indo yang lahir dari rahim para nyai adalah "orang miskin yang berbahaya atau gembel keras dan kasar yang menjadi pengacau di kampung".

Buku ini menarik untuk dikaji, setidaknya sebagai bahan referensi baru sejarah Indonesia.

Lukman Santoso Az
Peneliti Pada Centre for Studies of Religion and State, Yogyakarta
[Buku, Gatra Nomor 41 Beredar Kamis, 23 Agustus 2007]

Diambil dari :http://gatra.com/artikel.php?id=107348

Blog EntryCSR Tidak Masuk "Cost Recovery"Jul 24, '07 9:51 PM
for everyone

CSR Tidak Masuk "Cost Recovery"
Beban Investasi Migas ke Negara Terus Naik

jakarta, kompas - Tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) perusahaan migas dalam bentuk dana pengembangan masyarakat seharusnya tidak dimasukkan ke dalam biaya investasi migas yang harus ditanggung pemerintah (cost recovery).

Pengamat perminyakan Kurtubi, Selasa (24/7), mengemukakan, CSR oleh perusahaan migas dianggap bukan pengeluaran dalam rangka eksplorasi dan eksploitasi sehingga tidak layak dibebankan ke negara.

"Seharusnya dana pengembangan masyarakat diambil dari keuntungan perusahaan, sebab perusahaan sudah menikmati windfall profit dari harga minyak yang tinggi dalam dua tahun terakhir," kata Kurtubi.

Data Panitia Kerja DPR RI menunjukkan, cost recovery untuk tahun 2007 kembali meningkat. Cost recovery yang diajukan Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas mencapai 10,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 93,9 triliun.

Jumlah itu mencapai 30 persen dari keseluruhan pendapatan kotor dari sektor migas tahun ini yang diperkirakan mencapai 35 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 321 triliun. Bagian pemerintah dari pendapatan migas setelah dipotong bagian kontraktor hanya sekitar Rp 105 triliun.

Dengan demikian, dalam tiga tahun terakhir, dana untuk cost recovery terus naik. Anggota Panja A DPR RI Ramson Siagian mengatakan, Dewan menargetkan besaran cost recovery bisa ditekan 8-10 persen lagi untuk mengurangi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007.

BP Migas belum mengumumkan biaya untuk cost recovery tahun 2006. Tahun 2005, cost recovery yang diajukan kontraktor kontrak kerja sama migas sebesar 7,53 miliar dollar AS. Dari jumlah itu, pengeluaran kontraktor migas untuk pengembangan masyarakat juga terus meningkat. Kepala Divisi Hubungan Pemerintah dan Masyarakat BP Migas Amir Hamzah memperkirakan, dana pengembangan masyarakat tahun ini akan meningkat 20 persen sampai 30 persen dari anggaran tahun 2006.

"Tahun lalu, anggaran dana pengembangan masyarakat yang diajukan kontraktor migas sekitar Rp 310 miliar. Namun, realisasi yang kami setujui sekitar 76 persen," kata Amir.

Kontraktor migas yang mengajukan biaya pengembangan masyarakat dalam jumlah besar, antara lain BP untuk proyek Tangguh, Chevron, Pertamina, Total Indonesia, dan konsorsium West Natuna.

Sebelumnya, Dirjen Anggaran Departemen Keuangan Ahmad Rochjadi menolak berkomentar saat ditanyakan mengenai anggaran cost recovery yang cukup besar. "Itu yang lebih tahu Badan Kebijakan Fiskal (BKF), bahkan mungkin yang lebih tahu lagi BP Migas," jawabnya.

Kepala BKF Anggito Abimanyu juga menyatakan hal yang sama. Menurut Anggito, hal itu sebaiknya ditanyakan ke BP Migas. "Soal perhitungan sampai 10 miliar dollar AS itu teknis sekali. Saya kurang tahu kalau soal teknis," ujarnya.

Ketika disinggung apakah ada kemungkinan bagi Depkeu untuk mengubah mekanisme perhitungan tersebut, menurut Anggito hal itu tidak bisa dilakukan.

"Kalau mengubah cost recovery itu sudah teknis. Yang tahu Dirjen Migas dan BP Migas. Kami hanya diinformasikan saja," katanya.

BP Migas juga yang paling tahu apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam cost recovery dan mana yang tidak, serta seberapa besar eksplorasi yang dilakukan. Jadi, Departemen Keuangan tidak memiliki data, namun hanya menerima laporan dari BP Migas.

Siapa yang berhak untuk mengaudit dan apakah yang dimasukkan dalam cost recovery itu sudah benar, kata Anggito adalah tugas Direktorat Jenderal Pajak.

Dirjen Pajak Darmin Nasution juga mengatakan sebaiknya meminta penjelasan dari BP Migas. "Audit itu hanya dilakukan sekali terhadap kontraktor, bisa oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, atau Badan Pemeriksa Keuangan. Kalau memang ditemukan penyimpangan tanyakan saja ke BP Migas. Setelah itu saya baru berkomentar," katanya. (DOT/TAV/OSA)




diambil dari : http://kompas.com/kompas-cetak/0707/25/ekonomi/3714084.htm

Blog EntryTahukah Anda ?Jul 11, '07 11:22 PM
for everyone
Di ambil dari email-2 an milis jaman 2 tahunan yang lalu


Tahukah anda bahwa jika anda berteriak terus
menerus selama 8 tahun, 7 bulan dan 6 hari,
energi yang anda keluarkan akan cukup untuk
memanaskan secangkir kopi.
(Ngapain? Nggak sebanding sama hasilnya.)

Jika anda kentut secara konsisten selama 6 tahun
9 bulan, anda akan menghasilkan gas yang cukup
untuk menciptakan energi yang diperlukan dalam
membuat bom atom. (Nah, kalo ini mendingan lah,
lebih sebanding.)

Durasi orgasme seekor babi dapat mencapai 30
menit lamanya. (Wuih. Kalo ada reinkarnasi, in my
next life,I want to be a pig. Cuma gue bingung kok
bisa-bisanya tau soal ini ya?)

Membenturkan kepala ke tembok menghabiskan
150 kalori setiap jamnya. (Hmm..Gue masih
kepikiran soal babi tadi...)

Dari banyak spesies, hanya manusia dan lumba-
lumba yang bisa melakukan seks sebagai sebuah
kesenangan. (Oh jadi itu sebabnya Flipper sang
lumba-lumba selalu tersenyum! Dan babi bisa
orgasme 30 menit? Nggak adil, nggak adil!!)

Semua beruang kutub kidal.
(Emang siapa peduli? Lagian darimana bisa tau?)

Seekor kecoa mampu bertahan hidup selama 9
hari tanpa kepala, sebelum mati karena kelaparan.
(Hii syeerem..)

Seekor kutu mampu melompat sejauh 350 kali
panjang badannya. Kira- kira sama dengan
seorang manusia melompat sejauh lapangan
sepak bola.
(30 menit bo...kebayang nggak sih?.... dan kenapa
musti babi?)

Belalang sembah jantan tidak bisa membuahi
betinanya selama kepalanya masih menempel
pada tubuhnya. Sang betina harus memulai ritual
seks dengan memenggal kepala sang jantan.
(Mudah-mudahan nggak ada yang memberi tahu
mereka soal babi tadi.)

Beberapa jenis singa mampu kawin sebanyak 50
kali dalam sehari.
(Boleh juga, tapi in my next life, I still want to be a
pig: quality over quantity bo..)

Alat perasa pada kupu-kupu adalah kakinya. (Hii...)

Bintang laut tidak mempunyai otak. (Ah, nggak
cuma bintang laut. Manusia juga ada.)

Blog EntryOffice-spouseJul 3, '07 3:03 AM
for everyone
Selasa, 03/07/2007 13:26 WIB
Selingkuh di Kantor Bikin Orang Makin Sukses?
Puteri Fatia - detikHot

Jakarta, Hari gini nggak sedikit pekerja kantor yang punya pasangan ganda, di rumah dan di kantor. Istilah Inggrisnya 'Office Spouse'. Menurut penelitian, pasangan semacam ini dipercaya bikin kerjaan makin lancar.

Jangan salah dulu, selingkuh yang dimaksud di sini bukan berarti selingkuh cinta. Definisi 'pasangan kantor' yang dimaksud adalah hubungan kedekatan antar teman sekantor tanpa melibatkan unsur cinta dan seksual.

Umumnya memang pasangan asli di rumah tidak mengetahui hubungan ini. Gambarannya, 'pasangan' lawan jenis ini adalah orang terdekat di kantor, yang mengetahui segalanya tentang kerjaan dan pribadi, punya kedekatan personal, tempat curhat, pemberi motivasi dan berbagai aktivitas lainnya yang menguatkan hubungan 'batin' mereka.

Tapi hubungan ini jauh dari romantis. Hubungan mereka hanya sebatas curhat, saling berbagi, mendukung, tanpa ada bumbu cinta. Walau demikian tak dipungkiri jika keduanya menginginkan, hubungan bisa berlanjut ke area romantis.

Umumnya hubungan ini berawal dari kedekatan. Apalagi kalau dihitung-hitung porsi waktu seseorang berada di kantor juga tak sedikit. Selama Senin-Jumat, setidaknya 60-80 jam dihabiskan di tempat kerja bersama teman kerja.

Seperti detikhot kutip dari CNN, Selasa (3/7/2007), punya pasangan di kantor tak hanya bisa membuat seseorang bahagia, tapi juga meningkatkan kesempatan untuk promosi dan kenaikan gaji.

Survey yang diadakan oleh salah satu firma konsultan karir di Amerika, Vault Inc, menguatkan hal tersebut. "Ini (office spouse) adalah sistem dukungan yang bagus di antara para pekerja dan membuat pekerja lebih produktif," ujar Mark Oldman salah satu pendiri Vault inc.

Menurut survey tersebut, 32% pekerja kantor memiliki pasangan 'selingkuh' di kantor. Jumlah ini dipercaya terus bertambah. Mereka umumnya merasa lebih nyaman menceritakan beberapa hal kepada pasangan kantor mereka ketimbangan pasangan asli mereka yang berdasarkan pernikahan.

Hubungan 'pasangan kantor' ini juga diminati karena tak ada komitmen atau unsur seks di dalamnya. Begitu mereka tidak cocok atau bosan pun hubungan bisa langsung diakhiri tanpa harus mengunjungi pengadilan agama. Jadi?(fta/fta)



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help